Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan

Rabu, 11 Mei 2016

Unknown

Galau Setelah Liburan ke Luar Kota? Ini Tips Mengatasinya

Shutterstock
Dikutip dari Kompas.com, JANGAN berpikir semua orang berhagia dengan liburan yang dilaluinya. Di beberapa tempat, sebagian orang menganggap liburan sebagai roller coaster yang berada di fase turun. Entah itu dikarenakan ekspektasi tinggi yang tak kesampaian, atau ketakutan kembali ke fase-fase kesepian saat bekerja.
Beberapa ahli mengatakan depresi pasca liburan adalah sesuatu yang lumrah adanya. Perasaan sedih, bersalah, marah, apalagi jika liburan yang dilaluinya tidak membuatnya lebih bahagia.
Sindrom ini biasanya dimulai dengan gejala munculnya perasaan sedih, rasa bersalah, marah, tidak bahagia, sampai yang parah; insomnia, pemarah, nafsu makan menurun drastis, sulit konsentrasi, cemas, dan lain sebagainya.
Beberapa hari yang lalu, bisa jadi Anda tengah menyantap hidangan terlezat dengan orang terdekat Anda. Setelah itu berlalu, Anda akan kembali ke fase bekerja, meringkuk di tengah tumpukan dokumen-dokumen yang membosankan.
Rasanya cukup normal saat Anda sedikit kecewa dengan liburan yang sementara, tapi jangan sampai Anda membiarkan perasaan itu menguasai Anda. Oleh karena itu, ada baiknya Anda merencanakan hal-hal berikut:
- Buatlah rencana
Merancang ulang jadwal liburan itu penting. Pilihlah waktu-waktu yang tepat, di sela-sela kesibukan Anda untuk menghubungi lagi teman-teman Anda yang terlewat saat liburan sebelumnya. Makan malam sederhana akan membuat Anda jauh lebih senang daripada sebelumnya.
- Ciptakan pilihan yang sehat
 Menciptakan pola hidup sehat semoga bisa menghilangkan rasa stres Anda karena liburan yang kurang berkualitas. Makan yang bergizi, berolahraga, diyakini mampu menjaga diri dari depresi yang berkelanjutan.
- Tetap bersosialisasi
Tidak terasa, beberapa hari yang lalu kita masih bersendau-gurau dengan kerabat dan kawan-kawan kita, tapi saat ini kita sudah dihadapkan kembali dengan dokumen-dokumen yang harus segera digarap. Pasti akan muncul rasa kesepian. Menjaga komunikasi dengan kerabat dan teman adalah kunci utama untuk menghindari sindrom pasca liburan.
- Carilah bantuan
Jika Anda sudah benar-benar terjangkit post-holiday blues, jangan sungkan-sungkan untuk meminta bantuan. Bisa keluarga, bisa juga langsung ke ahli kesehatan. Kadang terkesan klise, gangguan ini bisa hilang dengan sendirinya setelah kita mendengar suara orang kita anggap paling dekat, meski hanya melalui gagang telepon.
Unknown

Kenali 5 Efek Kafein pada Tubuh

Thinkstockphotos- ilustrasi
di kutip dari Kompas.com , Kafein merupakan zat yang secara alami bisa kita temukan dalam berberbagai tanaman, termasuk biji kopi dan daun teh. Kola dan kakao juga mengandung kafein.

Kafein bersifat stimulan bagi sistem saraf. Zat ini bisa membuat kita terjaga, walau sementara, dan merasa lebih berenergi. Konsumsi kafein berlebihan atau gejala penarikan bisa menyebabkan sederet masalah kesehatan.

Ketahui apa saja efek kafein pada tubuh dan juga mood.

1. Sistem saraf pusat
Kafein dengan cepat mencapai otak dan bekerja sebagai stimulan pada sistem saraf pusat. Efek yang paling terlihat adalah membuat kita lebih awas, sehingga kita lebih terjaga dan tak gampang lelah.

Walau begitu, jika kita tak terbiasa mengonsumsi kafein, zat ini bisa menyebabkan rasa cemas dan gugup. Bila Anda sudah memiliki gangguan kecemasan dan sulita tidur, kafein akan memperburuk gejalanya.

2. Sistem pencernaan dan ekskresi
Kafein bisa meningkatkan jumlah asam lambung dan mungkin memicu heartburn atau rasa panas di dada. Zat ini juga bersifat diuretik atau menguras cairan dari tubuh.

3. Sistem pernapasan
Kafein diserap di lambung dan kadarnya mencapai lever tertinggi di peredaran darah dalam waktu satu atau dua jam. Kafein juga bisa membuat tekanan darah meningkat sementara. Tapi, jika Anda memiliki gangguan irama jantung, kafein akan membuat jantung bekerja lebih keras.

4. Sistem otot dan tulang
Dalam jumlah banyak, kafein bisa merusak penyerapan dan metabolisme kalsium. Hal ini dalam jangka panjang menyebabkan tulang mudah rapuh.

5. Sistem reproduksi
Kafein menyebar melalui pembuluh darah dan bisa berpindah ke plasenta ibu hamil. Karena zat ini bersifat stimulan, maka bisa membuat detak jantung bayi meningkat dan metabolismenya meningkat.

Ibu hamil yang mengonsumsi banyak kafein juga dapat berakibat pada pertumbuhan janin lebih lambat dan meningkatkan risiko keguguran. Tapi, pada kebanyakan kasus konsumsi kafein sedikit cukup aman dalam kehamilan.
Unknown

KEKERASAN PERS YANG TAK UNJUNG USAI

Stop Kekerasan Terhadap Pers

Dalam Undang-Undang Dasar No. 40 tahun 1999 dipaparkan mengenai Kebebasan Pers. Namun, realita kehidupan pers di Indonesia saat ini masih buram dengan adanya kebebasan Pers. Menelik perjalanan pers di Indonesia, Pers memang maju dalam perkembangannya, namun satu per satu kasus mengenai pers selalu merambat kepada para Jurnalis yang dilakukan oleh oknum, seperti Polisi dan TNI.
Hal ini sungguh terjadi di Indonesia, bisa dihitung sudah berapa kasus kekerasan yang dialami oleh jurnalis, baik jurnalis media nasional ataupun para fotografernya. Para jurnalis tidak hanya dipukul, namun juga disiksa sampai akhirnya hanya meninggalkan nama atas profesinya sebagai seorang pencari berita.
Banyak cara yang sudah dilakukan insan pers untuk meminta hak mereka bebas. Bebas bukan dalam artian semena-mena, tapi bebas dalam artian sebagai profesinya. Dalam hal ini, berbagai naungan pers pun melakukan berbagai macam cara, seperti Dewan Pers, PWI, dan juga AJI. Kasus kekerasan pers di Indonesia tampaknya belum mencapai pintu usai dalam kehidupannya.
Hampir setiap bulannya, AJI bisa mencatat berapa jumlah daftar kekerasan yang masuk terhadap wartawan yang rata-rata dilakukan oleh oknum polisi. Pada saat digelarnya aksi kebebasan pers pada awal Mei lalu, pihak AJI (Aliansi Jurnalis Independen) pun mengatakan bahwa musuh dari pers saat ini adalah polisi.
Dari pernyataan AJI ini pun dapat dikatakan bahwa memang benar bahwa kebebasan pers hanya sebuah pemaparan belaka, tidak ada kekerasan yang usai dari wartawan. Wartawan hanya sekedar kuli yang ingin menyampaikan informasi, namun nyawanya masih dalam bayang-bayang tindak kekerasan oknum yang berlaku semena-mena.
Lalu, kemana pemerintah sang pembuat undang-undang? Seharusnya, pemerintah siap menjawab tentanng hak-hak dan bahkan fisik para kuli tintanya yang sudah terlanjur tersakiti secara lahir dan batin.  Para jurnalis selalu berkoar meminta kebebasan pers, namun pemerintah tidak ada sama sekali  respon. Sudah selayaknya, pemerintah mengayomi semua bidang masyarakat dari berbagai  bidang profesi.

Jika kebebasan pers hanya sekedar ditulis dalam undang-undang saja, maka hak pers tidak diberikan oleh pemerintah. Sekilas saja kita melihat apa tugas pers.  Pers adalah mereka yang bernaung dalam kegiatan jurnalistik. Mencari, menggali, dan memberikan informasi. Pekerjaan sebagai seorang jurnalis bukanlah hal yang mudah, butuh tenaga pikiran, dan juga energi yang kuat serta mental.
Kebebasan pers bukan hanya sekedar kebebasan. Kebebasan dalam artian, bukan kebebasan atau keleluasaan. Kebebasan di sini adalah kebebasan dalam mengerjakan suatu profesi, kebebasan untuk bekerja tanpa ada tindakan kekerasan di dalam tugasnya. Kita bisa lihat berapa kasus kekerasan wartawan di Indonesia dari beberapa wilayah.
Ada wartawan yang dipukul, diinjak, dan bahkan ditembak tanpa ada kesalahan yang jelas. Apakah kekerasan hanya selalu pada wartawan? Apakah pekerjaan sebagai wartawan itu salah? Atau mereka sebagai oknum tidak tahu tentang adanya undang-undang terhadap wartawan? Dengan contoh kasus-kasus kekerasan yang sering terjadi.
Beberapa contoh kasus kekerasan pers yang terjadi di Indonesia seperti yang dikutip dari catatan Dewan Pers. Dua wartawan mengalami kekerasan saat meliput di Apartemen Cempaka Mas, Jakarta Pusat, Senin, 27 April 2015. Kedua wartawan tersebut adalah Rani Sanjaya, RCTI, dan Robi Kurniawan, Berita Satu TV. Sedangkan dua warawan lain, Samarta (SCTV) dan Muhammad Rizki (Metro TV), diintimidasi. Kekerasan diduga dilakukan oleh petugas apartemen Cempaka Mas. Koran telah mengadu ke Dewan Pers.
Tidak hanya itu pun Didik Herwanto, fotografer Riau Pos dan Robi, kameramen Rtv dianiaya oknum perwira TNI Angkatan Udara saat meliput jatuhnya pesawat Hawk 200, di Pekanbaru, Selasa 16 Oktober 2012.Setelah mendapatkan tindak kekerasan, Didik sempat divisum di Rumah Sakit AU dan menjalani pengobatan di Eka Hospital hingga sore hari. Sementara Robi menjalani perawatan di RS Bhayangkara. Komandan Pangkalan TNI AU Pekanbaru, Kolonel Bowo Budiarto, meminta maaf atas insiden pemukulan terhadap wartawan.    
Itu baru beberapa contoh kekerasan yang terjadi terhadap wartawan di Indonesia, jika lebih dirinci lagi akan banyak kekerasan yang terdaftar dalam catatan. Lalu, apa lagi yang harus diperlihatkan wartawan dalam meminta kebebasan mereka? Sudah selayaknya pemerintah juga turun membantu bahkan mengayomi pihak wartawan untuk sama-sama mencari kebebasan yang dicari.
Wartawan juga manusia,perjalanan profesinya tidak harus melulu dengan kekerasan. Tapi, juga ada segudang prestasi yang ditorehkan untuk kebaikan dunia. Kebebasan wartawan tidak akan pernah usai apabila oknum yang melakukan kekerasan tidak sadar akan keberadaan wartawan, dan tidak mengerti akan fungsi wartawan. Di sini seharusnya para oknum harus lebih memahami keberadaan, bukan hanya memainkan fungsi masing-masing saja.
Oknum polisi misalnya, yang sering dijadikan sebagai pihak yang melakukan kekerasan terhadap wartawan harusnya tahu apa fungsi dan tugas wartawan bukan saja menghardik semata. Begitupun wartawan, sebagai seorang jurnalis yang memiliki wawasan luas harus pandai menjalin hubungan baik dengan para polisi, agar kesamaan dalam menjalankan fungsi dan berjalan baik, dan kasus-kasus kekerasan setidaknya berkurang, yang secara tidak langsung kebebasan akan pers akan mulai dirasakan.
Sumber: google.com